top of page

Press Release 

For Immediate Release 
 

IESR: Uliyasi Simanjuntak

Manajer Komunikasi, uliyasi@iesr.or.id, +62 812-3684-1273


giz Indonesia: Gandabhaskara Saputra
Sr. Communications Advisor CASE for SEA, gandabhaskara.saputra@giz.de, +6281119174387

 

Transisi Energi Memerlukan Terobosan dan Pesan Komunikasi yang Sederhana

Jakarta, 12 Oktober 2022

Keberhasilan transisi energi di Indonesia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah pesan komunikasi. Pesan kunci komunikasi harus dapat dipahami oleh banyak pihak untuk mendukung dan memperlancar transisi energi. 

 

Verena Puspawardani, Program Director Coaction Indonesia mengungkapkan, diperlukan terobosan dalam pembuatan kebijakan dari segi percepatan dekarbonisasi. Ini karena peta jalan yang tersusun belumlah cukup. 

 

“Kita butuh kerangka kerja dan reformasi kebijakan. Ini juga pengingat bagi lembaga pembiayaan karena kita juga butuh terobosan dalam bidang pembiayaan dari segi stimulus fiskal. Kita butuh stimulus ini yang dapat menarik investasi dan mendorong industri ‘hijau’,” ujarnya dalam Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2022, Rabu (12/10/2022). 

 

Paket stimulus fiskal, tambahnya, akan menarik investasi dan mendorong industri ‘hijau’. Pada akhirnya, akan lebih banyak pembiayaan oleh swasta ataupun publik yang dapat ditarik untuk memastikan adanya ketahanan terhadap permasalahan iklim. Untuk kepentingan pendidikan atau persiapan sumber daya manusia, terobosan juga dibutuhkan dalam rangka pengembangan keterampilan. 

 

“Kita dapat mencapai ini melalui kurikulum yang mudah diaplikasikan bukan hanya di daerah perkotaan, tetapi juga di daerah pinggiran di Indonesia karena kita terdiri dari banyak pulau. Tidak semua pulau memiliki akses tehadap informasi, pendidikan, atau infrastruktur memadai.  Beberapa pulau juga memiliki kesulitan untuk mengakses pelayanan kesehatan, bahkan layanan internet. Ini juga masih berhubungan dengan terobosan dalam bidang teknologi,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, “Bagi kami, masyarakat sipil, yang paling penting adalah adanya wacana jelas dan dapat dipahami oleh publik karena perubahan tidak akan terjadi bila tidak ada keterlibatan publik”. 

 

Sementara itu, Stefan Bößner, Research Fellow di Stockholm Environment Institute (SEI) Asia, mengemukakan, keinginan mewujudkan transisi energi juga harus memandang keuntungan pendapatan dari penjualan bahan bakar yang berasal dari fosil. 

 

“Kemampuan mencapai transisi energi adalah kemampuan berinovasi untuk menemukan sumber pendapatan lain, misalnya mengubah daerah penghasil batubara menjadi daerah ekoturisme. Kuncinya adalah menemukan pendapatan lain selain batubara di sektor lain. Tentu, semua orang memiliki kemampuan atau kapasitas untuk berinovasi,” tandasnya.

 

Pada kesempatan sama, Christine Go dari Indonesia Refill My Bottle mengatakan, cara menyampaikan pesan transisi energi juga tak kalah penting. Pesan-pesan komunikasi tidak bisa didistribusikan seragam kepada seluruh kelompok masyarakat. Pesan transisi energi terkait minyak bumi, misalnya, mungkin secara teknis sulit disampaikan kepada dan dimengerti oleh anak-anak. 

 

“Orangtua bisa mengimplementasikan pesan transisi energi sebagai upaya character building. Akan lebih mudah membentuk pola pikir selagi masih anak-anak. Mulailah dari hal-hal kecil. Kami menginginkan agar masyarakat memiliki kapabilitas untuk berpikir atau berpandangan 'hijau'.  Itulah sebabnya saya mengajak keluarga saya di rumah untuk mengurangi pemborosan air dan menghemat air. Memang hal ini sulit. Tetapi, saya berusaha menyampaikan kepada anak saya yang berusia belia. Dengan begitu di masa mendatang, generasi masa depan memiliki kerangka berpikir ini dan menjadi kebiasaan yang menyatu dengan gaya hidup sehari-hari,” tuturnya.

 

Tak lupa, ia juga menganjurkan untuk menggunakan media sosial. Sisi kreativitas memang bisa meningkatkan efektivitas kampanye transisi energi. Hal inilah yang dilakukan oleh Kopernik, sebuah organisasi nirlaba. Sergina Loncle, Director of Communications and Strategic Initiatives Kopernik, menyampaikan, Kopernik sering memasukkan unsur kreativitas dalam menyampaikan pesan-pesan lingkungan. Kopernik, ia mencontohkan, menggunakan video 360, bersinergi dengan grup band dan sebagainya dalam menyebarluaskan pesan komunikasi terkait lingkungan.

 

Hal tak berbeda jauh juga disampaikan oleh Kania Maniasa, Executive Director di Green School Foundation. Keterlibatan anak muda, katanya, makin penting dalam upaya transisi energi. Menurutnya, sustainability merupakan behavior. Oleh sebab itu, memberi contoh dapat membuat suatu pesan lebih efektif.

 

“Kami telah mencobanya. Sekolah kami tidak menggunakan AC, tapi solar panel. Dinding sekolah kami terbuat dari bambu, 80% toilet kering, dan bus kami berbahan bakar dari minyak sayur yang diolah menjadi biodiesel. Kami mencoba untuk memberi solusi praktis ke anak-anak. Kami mengedukasi anak-anak melalui life learning, beradaptasi dengan ide baru. Masa depan adalah dunia mereka kelak,” ungkapnya.

 

ISEW terselenggara atas kerjasama Indonesia Clean Energy Forum (ICEF), Institute for Essential Services Reform (IESR), dan Clean, Affordable, Secure Energy for Southeast Asia (CASE). CASE merupakan sebuah program kerjasama antar dua negara: Indonesia - Jerman (Direktorat Ketenagalistrikan, Telekomunikasi, dan Informatika, Kementerian PPN/Bappenas, dan didanai oleh Kementerian Perekonomian dan Aksi Iklim Pemerintah Federasi Jerman).

bottom of page